Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) memprotes penggusuran paksa areal lahan yang mereka tempati sejak 1951 silam. Protes mereka disampaikan melalui aksi jalan kaki dari Medan, Sumatera Utara menuju Istana Negara di Jakarta.

Penggusuran dilakukan oleh PTPN II di lahan yang terletak di Dusun Bekala Desa Simalingkar A dan Desa Sei Mencirim, Kabupaten Deli Serdang. PTPN II dikawal oleh aparat TNI dan POLRI menguasai paksa lahan-lahan pertanian masyarakat, termasuk menghancurkan seluruh tanaman yang ada.

Ironisnya, penggusuran dilakukan di lahan yang telah menjadi objek SK Landreform sejak tahun 1984. Bahkan, ada lahan milik 36 petani di Sei Mencirim yang ikut tergusur meski mereka telah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM).

Aksi jalan kaki Medan-Jakarta dilakukan petani sebagai bentuk protes, sekaligus mencari keadilan atas ruang hidup petani yang telah dirampas. Luas area yang berkonflik antara petani yang tergabung dalam SPSB dengan PTPN II adalah seluas ± 854 Ha dan area petani yang tergabung STMB seluas ± 80 Ha.

Para petani membawa sejumlah tuntutan yang secara langsung akan diserahkan kepada Presiden Joko Widodo. Petani berharap pemerintah mengambil langkah serius untuk penyelesaian konflik agraria, khususnya konflik antara petani Simalingkar A dan Sei Mencirim, Kabupaten Deli Serdang dengan PTPN II.

Para petani juga menuntut pemerintah segera melakukan redistribusi tanah, menghentikan penggusuran terhadap areal pertanian dan pemukiman petani di Desa Simalingkar A dan Sei Mencirim, termasuk menghentikan kriminalisasi terhadap petani dan memberantas mafia hukum.

%d bloggers like this: